Pajak Freelancer (Edisi Telepon AR)

Setelah kemarin telepon kring pajak, hari ini saya mencoba untuk telepon ke Account Representative (AR) pajak saya yang bernama Pak Arin. Seharusnya AR saya adlah Bu Fitri, namun karena sedang cuti hamil sehingga untuk sementara digantikan oleh Pak Arin.

Terus terang, sebelumnya saya berpikiran bahwa “orang pajak” itu galak, judes, seram, dll. Namun ternyata itu tidak benar, orang pajak itu sangat baik-baik, sopan, dan ramah. Saya benar-benar merasakan hal ini setelah telepon kring pajak dan AR saya.

Terlebih dengan AR saya ini, beliau sangat ramah dan sopan, setiap kali saya bertanya dia selalu berkata “injih… injih…” yang artinya “iya… iya…”, di mana ini adalah Bahasa Jawa halus. Dari kata-kata yang sederhana ini punya arti luar biasa, karena membuat saya sangat dihargai dan dihormati, saya merasa setiap perkataan dan pertanyaan saya benar-benar diperhatikan dengan seksama.

SALUT!

Berikut adalah poin-poin yang saya peroleh via telepon tersebut :

Jadi gini Pak, dulu saya membuat NPWP saat masih bekerja di kantor, lalu sejak 2013 saya sudah resign dari kantor, dan pada tahun 2014 mencoba untuk usaha sendiri, apakah saya perlu ubah status perkejaan di NPWP saya?
Jawab: Oiya Pak sebaiknya diubah saja, tapi untuk nomor NPWPnya tetap tidak akan berubah, hanya pekerjaannya saja yang diubah. Untuk ubah data NPWP bisa ke KPP terdekat.

Sekarang kan saya mau buat SPT dulu, apakah saya perlu perbarui pekerjaan di kartu NPWP saya dulu atau gimana?
Jawab: Tidak perlu Pak, untuk SPT langsung saja Bapak pakai form 1770 (tanpa S) karena Bapak kan sudah tidak bekerja di perusahaan lagi jadi tidak ada form A1 dari perusahaan.

Lalu di SPT saya tulis pekerjaannya apa ya? Saya sekarang jualan online dan kerja serabutan.
Jawab: Bapak bisa tulis Usaha Dagang saja.

Bagaimana cara saya mengisi SPT? Saya tidak punya pembukuan atau bukti-bukti pendapatan lainnya.
Jawab: Bapak masuk ke dalam PPh 46 yang bersifat final, di mana besarnya 1% dari penghasilan bruto (omset).

Jadi bagian mana yang perlu saya isi pada SPT 1770?
Jawab: Silahkan diisi halaman romawi III nomor 16 bagian Penghasilan Lain Yang Dikenakan Pajak Final Dan/Atau Bersifat Final, jadi pada kolom Dasar Pengenaan Pajak/Penghasilan Bruto (sebelah kiri) diisi omset setahun, dan bagian PPh Terutan (kanan) adalah hasil kali 1%. Kemudian isi juga pada halaman romawi IV pada bagian Harta Pada Akhir Tahun. Untuk halaman lain bisa dikosongkan saja tapi tetap perlu dicetak.

Apa yang perlu saya lampirkan?
Jawab: Rincian penghasilan bruto (omset) tiap bulan dalam setahun yang ditandatangai dan fotocopy SSP (Surat Setoran Pajak).

Di mana saya bisa memperoleh SSP?
Jawab: SSP didapat saat membayar pajak, bisa di KPP terdekat, bank, atau kantor pos.

Oiya, mengenai PPh21, PPh25, dan PPh46 ini bedanya gimana ya?
Jawab: PPh21 itu apabila bekerja sebagai kayawan sebuah perusahaan, ada pemotongan dari perusahaan. PPh25 itu untuk usaha dan profesional seperti notaris, dokter, dll. PPh46 itu yang 1%.

Lalu bagaimana dengan PTKP untuk PPh46?
Jawab: Untuk PPh46 tidak ada PTKP karena bersifat final.

Kalau dengan pajak progresif?
Jawab: Untuk PPh46 tidak ada.

Saya mulai usaha sejak Maret 2014, nah sampai sekarang (Januari 2015) saya belum bayar pajak, karena sebelumnya saya dapat info kalau pembayaran pajak mengikuti tahun lalu sedangkan saya baru mulai, bagaimana?
Jawab: Iya, seharusnya Bapak sudah mulai setor pajak pada bulan berikutnya.

Lalu apakah saya akan kena denda?
Jawab: Belum tahu, yang penting sekarang Bapak lapor SPT dulu dan setor pajak 1% untuk setiap bulan tahun 2014 mulai bulan Maret 2014, jadi Bapak nanti akan punya 10 SSP.

Seandainya didenda, ada rumus hitungnya? Supaya saya punya gambaran.
Jawab: (Penghasilan Bruto x 1%) x 2% x Jml bulan terlambat

Wah, cukup besar juga ya, bisa dikompensasi ga ya? Karena ini juga saya baru pertama kali.
Jawab: Bisa saja mengajukan kompensasi, tapi nanti apabila memang sudah dapat Surat Tagihan Pajak (STP).

Silahkan isi komentar Anda di bawah

comments