Pajak Freelancer (Edisi Telepon AR) Part 2

Sekarang sudah bulan Maret, sudah saatnya pelaporan SPT. Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah surat dari Kantor Pajak perihal Pelaporan SPT Tahunan OP melalui e-filing. Pada intinya isinya adalah mengingatkan tentang pelaporan SPT yang disarankan menggunakan media elektronik (e-filing).

Kemudian saya coba cari info melalu internet tentang bagaimana cara mengisi e-filling, ternyata untuk membuat laporan menggunakan e-filling kita perlu mengajukan permohonan dulu ke Kantor Pajak untuk memperoleh kode EFIN (kode registrasi). Berhubung saya tidak jelas, akhirnya saya mencoba telepon ke Account Representative (Ibu Fitri) seperti yang tercantum pada surat yang saya terima.

Berikut adalah beberapa poin hasil percakapan telepon:

Saya terima surat dari Kantor Pajak yang isinya tentang laporan SPT melalui e-filing, kemudian saya coba cari info di internet dan ternyata untuk mengisi e-filing diperlukan kode EFIN ya Bu?
Jawab: Kalau sebelumnya Bapak belum pernah mengisi e-filing, Bapak bisa ke KPP untuk mengajukan permohonan e-filing, nanti Bapak akan terima sebuah bukti registrasi, di sana tercantum kode EFIN yang bisa digunakan untuk mendaftar e-filing.

Kebetulan saya kan sekarang kerja di Jakarta tapi NPWP Semarang, apakah harus di Kantor Pajak sesuai NPWP saya?
Jawab: Bisa datang ke KPP terdekat Pak untuk mengajukan permohonan e-filing,

Oiya, waktu itu saya sudah pernah telepon kebetulan Ibu sedang cuti melahirkan dan saya dilayani oleh Pak Arin (baca di sini), jadi saya kan sudah punya NPWP dari saat saya bekerja sebagai karyawan, kemudian sekarang saya sudah tidak lagi jadi karyawan dan coba usaha sendiri. Nah, oleh Pak Arin katanya saya sekarang menggunakan yang pajak final 1% itu ya?
Jawab: Iya betul Pak, pakai form 1770 ya.

Iya, jadi sekarang kan saya bayar pajak setiap bulan ya lewat internet Mandiri, nah kalau pakai form itu kan saya disuruh melampirkan bukti bayar pajak setiap bulannya, lalu bagaimana cara melampirkannya kalau pakai e-filing?
Jawab: Ooh kalau itu tidak bisa Pak, oiya kalau status Bapak sekarang usaha dan menggunakn form 1770 berarti tidak bisa menggunakan e-filing Pak tapi harus melalui Dropbox, Bapak terima surat e-filing karena sebelumnya status Bapak masih karyawan ya.

Okey, jadi saya lewat dropbox saja ya, untuk mengubah status menjadi usaha caranya bagaimana ya?
Jawab: Bapak bisa mengajukan ke kantor Pak.

Tapi untuk laporan SPT saya sekarang, saya tidak harus mengubah status di NPWP dulu kan?
Jawab: Tidak usah, tidak apa-apa Pak.

Saya sekarang kan pekerja lepas ya, jadi kadang terima jasa, tapi juga bisa jualan barang fisik, itu bagaimana ya, sebaiknya saya tulis status atau bidang usahanya di SPT sebagai apa?
Jawab: Kalau begitu Bapak bisa pisah formnya Pak, jadi form pertama untuk jasa yang kedua untuk jualan.

Tapi untuk yang jasa kan saya ga rutin ada, maksudnya ya mungkin sebulan sekali, atau bulan ini ada, bulan depan ga ada gitu, boleh ga kalau saya gabungkan saja, jadi  saya anggap sebulan saya dapat sekian kemudian saya kalikan 1% supaya ga repot?
Jawab: Boleh saja Pak.

Oiya, di SPT itu kan ada kolom aset ya, saya kan orang awam ya, background saya bukan orang pajak atau ekonomi, nah selama ini saya taunya aset itu cuma rumah atau kendaraan bermotor, tapi kemarin dapat info dari teman kalau tabungan itu juga termasuk aset ya?
Jawab: Iya Pak, sapi aja termasuk aset, aset kan ada aset lancar dan tidak lancar, semuanya dicantumkan Pak.

Nah saya sudah lapor SPT sejak tahun 2010 atau 2011, sampai sekarang tidak pernah mencantumkan tabungan, padahal saya kan sudah mulai menabung sejak masih kuliah dan belum punya NPWP apakah kalau sekarang saya cantumkan akan jadi tanda tanya? Karena kata teman nilai pajak yang dibayarkan dengan pertumbuhan aset harus sesuai.
Jawab: Tidak apa-apa Pak, Bapak cantumkan saja nilai tabungannya dan di kolom tahun ditulis “sampai dengan 2014” jadi Bapak bisa jelaskan kalau tabungan itu akumulasi dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya yang timbul pertanyaan itu apabila ada pihak bank yang mengajukan.

Kalau untuk kolom hutang, saya sih sekarang belum punya hutang Bu, cuma kemarin teman saya ada tanya tentang hal ini, jadi saya pingin tahu aja, misal hutang KPR gitu apakah juga dicantumkan?
Jawab: Iya Pak dicantumkan saja berapa nilai hutangnya.

Lalu kalau seperti KPR itu, apakah kemudian rumah yang belum lunas dan saya belum punya sertifikatnya dicantumkan sebagi aset?
Jawab: Iya Pak, jadi kan Bapak tulis tahun perolehannya, dan di kolom keterangan ditulis KPR dari bank apa, kemudian juga Bapak tulis besar hutangnya.

Okey, misal saya beli rumah tahun 2013 seharga 1M, kemudian saya KPR sebesar 700jt, berarti saya cantumkan di bagian aset rumah dengan nilai 1M tahun 2013, dan di hutang sebesar 700jt gitu ya?
Jawab: Betul Pak, tapi hutang ini kan tiap tahun nilainya turun ya, jadi misal tahun 2013 700jt, bisa saja di tahun 2014 menjadi 600jt, dan di aset rumah dengan tahun perolehan 2013 tetap sebesar 1M.

Ini juga berlaku untuk kredit kendaraan bermotor ya Bu?
Jawab: Iya betul Pak.

Okey, terima kasih banyak ya Bu Fitri, oiya setiap NPWP itu punya AR ya Bu? Berarti kalau teman saya mau tanya-tanya tinggal cari nomor ARnya saja ya? Karena kalau tanya konsultan pajak kan juga suka ngaco dan ada biayanya pula, hehehe…
Jawab: Iya Pak, setiap NPWP punya AR dan bisa tanya langsung.

Jadi buat teman-teman, apabila ada pertanyaan silahkan hubungi AR masing-masing ya, kalau tidak tahu ARnya siapa, coba aja telepon ke kring pajak 500200 dengan memberitahukan nomor NPWPnya.

Silahkan isi komentar Anda di bawah

comments